Jum'at, 18 Januari 2019
Follow:
Home
Kekerasan di Rakhine Meningkat, Ribuan Warga Rohingya Mengungsi
Senin, 28/08/2017 - 10:54:41 WIB
 
 

YANGON - Ribuan orang meninggalkan rumahnya di negara bagian Rakhine, Myanmar, karena memburuknya kekerasan dalam dua hari belakangan ini. Kekerasan marak dan berlanjut setelah para pejuang Rohingya menyerang sekitar 30 kantor polisi pada Jumat sehari sebelumnya.

Penduduk sipil Muslim Rohingya mengungsi dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh, namun penjaga perbatasan mengusir sebagian dari mereka kembali ke wilayah Myanmar.

Di Vatikan, Paus Fransiskus, menyerukan agar kekerasan atas warga Rohingya dihentikan.

"Berita buruk tiba tentang penganiayaan agama minoritas, saudara-saudara kita Rohingya," tulis Paus dalam pernyataannya.

"Saya ingin mengungkapkan kedekatan penuh dengan mereka. Mari kita minta Tuhan menyelamatkan mereka dan memberi pria dan wanita kebaikan untuk membantu mereka, agar mereka mendapat hak-hak penuh."

Umat Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar -yang mayoritas penduduknya beragama Buddha- dan sering menjadi korban kekerasan aparat keamanan maupun kelompok militan Budha.

Sebelum kekerasan terbaru ini, puluhan ribu warga Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh karena mengaku menjadi korban penganiayaan.

Rakhine -yang merupakan negara bagian termiskin di Myanmar- menjadi tempat tinggal dari lebih dari satu juta orang Rohingya yang beragama Islam.

Kepolisian Bangladesh mengatakan telah mengusir 70 orang kembali ke Myanmar pada Sabtu (26/08) setelah berupaya memasuki Bangladesh lewat perbatasan Ghumdhum.

Namun diperkirakan sekitar 3.000 warga Rohingya berhasil melintasi perbatasan dan masuk ke ke kamp pengungsi maupun kampung-kampung di kawasan perbatasan Bangladesh.

Seorang warga, Mohammad Zafar -yang berusia 70 tahun- yang berada di kamp pengungsi di Balukhali menjelaskan kepada kantor berita AFP bahwa dua anaknya ditembak mati di lapangan terbuka.

"Mereka menembak begitu dekat sehingga saya tak bisa mendengar apapun sekarang."

Warga lain yang mengungsi ke sebuah kampung di dekah Ghumdhum mengatakan akan dibunuh jika kembali ke kampungnya. "Tolong selamatkan kami. Kami ingin tinggal di sini atau kami dibunuh," katanya kepada kantor berita Reuters.

Sementara itu, sekitar 4.000 penduduk Rakhine yang bukan beragama Islam sudah dievakuasi oleh tentara Myanmar agar tidak terperangkap dalam kekerasan.

Kekerasan terbaru ini marak setelah Oktober 2016, ketika sembilan polisi tewas dalam serangan militan Rohingya di pos perbatasan yang memicu operasi militar besar-besaran dan menyebabkan ribuan umat Muslim Rohingya mengungsi.

Pemerintah Myanmar menegaskan operasi dilancarkan untuk memburu para militan Rohingya. Bagaimanapun PBB sedang menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat keamanan Myanmar, yang membantah tegas.***

sumber: detik.com

 
Berita Terbaru >>
Kejati Pimpin Serah Terima Tiga Kejari di Riau
Luhut Binsar Panjaitan Panen Raya dan Bagikan Sertifikat di Siak
Vanessa Angel Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Prostitusi Online
Aris 'Idol' Ditangkap Karena Penyalahgunaan Narkoba
Kunjungi Siak, Menko Kemaritiman Puji Sikap Patriot Sultan Syarif Kasim II
Pemko Pekanbaru Kembali Agendakan Relokasi PKL Teratai
Mandeh Run 2019 di Surga Wisata Tersembunyi
Dinas PUPR Dumai Hentikan Proyek Tanpa Izin
Tim Penasehat Hukum Mentahkan Dakwaan JPU, Agus Salim Harus Bebas Demi Hukum
Piala Adipura ke 4, Hadiah Manis untuk Syamsuar Sebelum Dilantik Sebagai Riau I
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com