Sabtu, 11/11/2017
Follow:
Home
'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' Citra Baru Indonesia di Mata Dunia
Sabtu, 11/11/2017 - 12:17:43 WIB
  'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'  

JAKARTA - Setelah rilis perdana di Cannes, film 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' memilih berkeliling dunia ketimbang tayang di Indonesia. Namun, keputusan tersebut ternyata membuat pandangan dunia ke Indonesia berubah.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak memulai perjalanan keliling dunia dari Festival Film Cannes, Prancis, Mei lalu. Usai dari Cannes, Marlina pindah ke New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival pada Agustus.

Pada September, Marlina berpetualang ke Kanada, tepatnya Toronto Internasional Film Festival dan dilanjutkan dengan Vancouver International Film Festival.

Marlina kembali melanjutkan perjalanan ke Sitges International Fantastic Film di Catalonia, Spanyol. Lalu berpindah kembali ke Asia, tepatnya Busan International Film Festival di Korea Selatan.

Mouly Surya, sutradara Marlina mengakui dunia sedikit mengubah pandangan mereka tentang Indonesia usai menonton film yang dibuat atas kerja sama dengan Prancis tersebut.

"Kalau di luar negeri, Indonesia terkenal dengan masyarakat Muslim. Tapi film ini menampilkan kepercayaan Marapu, bukan Islam atau bahkan Kristen. Mereka banyak yang antusias bertanya tentang itu," kata Mouly di Jakarta.

Marapu merupakan kepercayaan lokal yang dianut lebih dari setengah masyarakat Sumba. Kepercayaan yang berupa pemujaan kepada leluhur ini mengajarkan kehidupan dunia hanyalah sementara dan setelah akhir zaman, penganut Marapu akan hidup kekal di dunia roh.

Mouly mengaku dia harus menjelaskan keberagaman Indonesia di depan para penonton di banyak negara.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan kisah seorang janda di Sumba yang diperankan oleh Marsha Timothy. Dia mencari keadilan dengan memenggal kepala perampok yang memerkosanya.

Lewat ide cerita dari sineas senior Indonesia Garin Nugroho, Mouly membalut cerita Marlina dengan kultur masyarakat Sumba yang kental. Film fiksi itu dipoles lagi ala genre western.

"Ide western ini datang ketika saya ingat pelajaran kuliah dulu. Western itu semacam jagoan yang sendirian, dunianya punya jarak dengan hukum dan aparat karena sangat jauh atau personelnya sedikit," tutur Mouly.

Menurut Mouly, elemen western dapat membuat kisah Marlina lebih komunikatif.

Setelah mendapat sambutan hangat di luar negeri, Mouly berharap penonton Indonesia juga punya antusias yang sama ketika film ini tayang 16 November mendatang.

"Sangat berharap orang-orang Indonesia juga punya antusiasme terhadap Marlina," ujar Mouly.***/CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Pompong Pengangkut BBM Meledak di Selat Panjang, 3 ABK Terluka
Ketua MPR Katakan DPR Sudah Hancur
Gubri Lepas 150 Jemaah Majelis Taqlim Pekanbaru Pergi Wisata Religi
Marjoni Hendri Terpilih Aklamasi Pimpin Pordasi Riau
2018, Dinsos Riau Sediakan Rp141 M untuk Keluarga Kurang Mampu
Festival Tesso Nilo dan Kemah KSDAE akan Diadakan Mulai Rabu
Akbar Tanjung Takut Golkar Tak Dapat Kursi DPR karena Setnov
Buka Riau JOB Fair 2017, Gubri Apresiasi Dunia Usaha
Mendagri Buka Rakor Camat se-Indonesia Bagian Barat di Riau
Jember Mampu Kembangkan Kebun Hidroponik Menjadi Pusat Agrowisata
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com