Minggu, 19/11/2017
Follow:
Home
Dewi Mengolah Biji Karet Menjadi Penganan Enak dan Gurih
Minggu, 19/11/2017 - 11:20:40 WIB
 
 

BENGKALIS - Sempat mengalami kejayaaan, kini harga getah tidak lagi mempesona. Meskipun demikian, tidak menyurutkan petani menakek batang getah setiap pagi. Yang penting  bagi petani, karet dari batang getah terus mengalir dan menetes. Tetapi zaman kejayaan itu memang seperti telah berlalu.

Melihat hal ini membuat hati Dewi Melinda, S.Pd terketuk untuk mencarikan solusi terbaik, supaya petani tidak terkutat dengan getah karet saja. Padahal, tidak hanya getahnya, ada bagian lain yang selama ini terabaikan, bila diolah mendatangkan rupiah, yakni, biji getah alias biji karet, atau sebagian masyarakat Bengkalis menyebutnya buah para.

Berawal ketika datang ke kebun karet milik orang tuanya, Putri dari pasangan Janawiyanto alias Heri dan Iis Sugiarti alias Tutik ini, menyaksikan biji getah berserakan, tidak ada yang peduli. Kalaupun ada yang mengutip, hanya segelintir saja, itupun sebagai bibit cantuman (getah kawin).

Lantas lulusan Jurusan Sejarah, FKIP Universitas Riau ini, berpikir menjadikan biji getah bernilai ekonomis. Bersama sang ibu, Dewi mengutip biji getah ini, untuk diolah  menjadi panganan atau cemilan, yang kelak bernilai ekonomis.

"Awalnya bingung mau diolah jadi apa. Lantas muncul ide, membuat kerupuk biji getah (buah para)," ujar guru pelajaran Sejarah dan Pembimbing UMKM KIR Al Banna, MAN 1 Bengkalis ini.

Tapi Dewi bertekad mengolah biji getah menjadi bahan baku penganan. Untuk mengolah biji getah ini, Dewi mengajak anak didiknya yang tergabung dalam UMKM KIR Al Banna MAN 1 Bengkalis, sebagai pelajaran tambahan alias ekstra kurikuler. Mulai dari membuka cangkang, memisahkan dagingnya dan merebus.

Setelah mengetahui rasa dan kelezatan kerupuk biji getah yang diolah, membuat anak pertama dari dua bersaudara ini semakin tertantang menambah varian lainnya dari biji getah ini. Mulai dari sambal balado biji getah, coklat biji getah, biskuit biji getah bahkan pakan ternak ayam dan ikan.

Tidak sampai di situ, agar temuannya diterima masyarakat dan memenuhi strandar kesehatan maupun halal. Dewi mau tidak tinggal diam, dara Desa Berancah, Kecamatan Bantan ini, terus putar otak, agar temuannya bisa dikonsumsi khalayak ramai. Lantas mendaftarkan panganan dari biji getah kepada pihak terkait.

"Alhamdulillah, sudah dinyatakan lulus uji Puskesmas, sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam waktu dekat BPOM akan segera turun ke MAN 1 Bengkalis," tandas Dewi.

Agar temuannya dalam mengolah panganan biji getah semakin dikenal, pada bulan Agustus 2017 Dewi bersama anak muridnya mengikuti lomba inovasi yang ditaja Balitbang Bengkalis. Alhamdulilah, berkat kesungguhannya, di ajang itu Dewi dengan produk DewRA Paragu memperoleh nominasi 5 besar sebagai guru pembimbing siswa dalam inovasi.

Berbekal nominasi lima besar itu, pada 11 November 2017, Dewi dibantu sang mama Iis Sugiarti alias Tutik, ikut perlombanaan inovasi pengelolaan panganan berbahan baku ungulan lokal Riau di Balitbang Provinsi Riau.

Dari pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB, di hadapan sang juri, Dewi bersama sang mama, memperagakan pembuatan cemilan dengan nama DewRa biskuit Paragu. Makna dari DewRa adalah Dewi mengolah buah para (biji getah), Paragu gabung dari buah para dan sagu.

Berkat kesabaran, mengolah biji getah alias buah para, maka Sabtu 11 November 2017, DewRa mampu menyisihkan para inovator pangan se-Provinsi Riau bahkan dari Kota Solo, Jawa Tengah. DewRa berhasil meraih juara kedua, sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis di kancah provinsi.

"Awalnya tidak percaya, karena peserta dari seluruh Provinsi Riau bahkan dari Solo Jawa Tengah. Juara satu dari kueh kering ikan patin dari Bagian Gizi Pekanbaru. Tapi nyatanya Dewi dinyatakan sebagai pemenang juara dua pada lomba bergengsi tingkat Provinsi Riau," ungkapnya.

Atas keberhasilannya meraih juara kedua, Dewi mengucapkan terima kasih kepada Balitbang Bengkalis yang telah melakukan pembinaan, Kepala MAN 1 Bengkalis Sudirman, dan siswa MAN 1 Bengkalis.

Memang juara kedua, selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja kerasnya selama ini, juga semakin memperkenalkan produknya. Terbukti, sejak saat itu, beberapa instansi memesan produk DewRa untuk dipasarkan.

Mulai dari Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kabupaten Kampar dan Kadin Provinsi Riau sudah memesan. Rencananya, pihak Kadin Provinsi Riau akan memasarkan DewRa di Bandara Sultan Syarif Kasim di Pekanbaru.

"Alhamdulillah, produk panganan dari biji getah mulai digemari," kata Dewi.

Soal bahan baku biji getah. Saat ini, Dewi dan kawan-kawan menampung biji getah dari petani dengan harga Rp3.000 per kilogram. Memang saat ini, biji getah yang dibeli dari petani belum banyak, karena masih terbentur modal. Tapi kelak, katanya, bukan mustahil, dia akan menampung biji getah dalam kapasitas besar.

"Doakan saja, kelak kami jadi pengusaha biji getah," ungkapnya.

Dewi semakin larut dengan temuannya. Buktinya, untuk untuk memudahkan kerja dalam mengolah biji getah, ternyata Dewi bersama tiga anak didiknya, M Razip, Surya Maulana dan Sahrudin menciptakan mesin pemecah biji getah. Memanfatkan Sanyo, ternyata mesin buatannya sudah sangat membantu dalam memecah biji getah.

Nama mesin temuannya, dilabeli Mrs UD. Dewlateks, yakni gabungnan nama dari M Razip, Surya Udin dan Dewi.***/MC

 
Berita Terbaru >>
Din Syamsudin Ajak Umat Beragama Tolak Sikap AS
Memasuki Musim Penghujan Harga Cabe Meningkat
Baznas Pusat Akan Bangun RS dan SMP di Pekanbaru
Cara Menyimpan Teh yang Benar
Permintaan Gas 5,5 Kg Meningkat 100 Persen
21 Wanita Diamankan di Bengkalis
Wakapolresta Pekanbaru Ikut Lepas Jenaza Supir Go-Car
Edy Sumardi Minta Masyarakat Teladani Rasullah SAW
5 Cara Keliru Mendisiplinkan Anak
RI Tolak Keras Pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com