Kamis, 25 April 2024
Follow:
Home
Anak-anak Palestina Terancam Kelaparan Jika AS Stop Bantuan
Kamis, 04/Januari/2018 - 08:38:47 WIB
 
 
TERKAIT:
   
 
AMERIKA SERIKAT - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghentikan bantuan ke Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bagi Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dikhawatirkan bisa membuat anak-anak Palestina kelaparan. 

Kepala negosiator perdamaian Palestina, Saeb Erekat menyatakan, selama bertahun-tahun para pemimpin Palestina beritikad baik, menggelar sejumlah pertemuan dengan pemerintah Amerika Serikat.

"Sekarang dia mengancam untuk membuat anak-anak Palestina di kamp-kamp pengungsi kelaparan, dan mengabaikan hak-hak mereka atas kesehatan dan pendidikan jika kita tidak menuruti perintahnya," kata Erekat, yang juga Ketua Komite Politik di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) seusai pertemuan di Ramallah, seperti dilansir The Times of Israel, Kamis (4/1).

Erekat mengecam keras tindakan Trump yang tidak masuk akal terhadap Palestina. Dia menuduh Presiden AS itu, melalui tindakan-tindakannya, mendorong Israel makin memperkuat penjajahan dan rezim apartheidnya terhadap Palestina.

"Bukannya memperlakukan Palestina secara adil, Presiden Trump memilih untuk menyalahkan ketimbang menjadi perantara yang jujur," kata Erekat.

"Pernyataan-pertanyaannya melawan rakyat Palestina telah mendorong Israel untuk terus melakukan kejahatan-kejahatannya yang keji dan melanggar hukum internasional," kata Erekat menambahkan.

Langkah-langkah Trump lain yang menentang Palestina, menurut Erekat, termasuk upaya menutup misi PLO di Washington, serta undang-undang yang akan memotong bantuan ekonomi bagi PLO jika terus memberi kompensasi bagi keluarga Palestina yang dianggap teroris karena menyerang warga Israel.

"Kami menyerukan kepada Presiden Trump dan pemerintahannya untuk berdiri di sisi sejarah yang benar, menghormati hukum internasional, dan berhenti mendorong anarki internasional dan melanggar syarat-syarat mendasar bagi perdamaian," kata Erekat.

Sebelumnya, Presiden Mahmoud Abbas merespons ancaman Trump untuk menghentikan bantuan bagi UNRWA dengan menyatakan bahwa "Yerusalem tidak untuk dijual."

"Yerusalem adalah ibu kota abadi Palestina dan itu tidak akan dijual demi emas atau miliaran (uang)," kata juru bicara Abbas Nabil Abu Rudeineh seperti dilaporkan AFP.

Trump mengancam untuk menghentikan bantuan kepada Palestina yang dianggapnya tidak mau lagi menggelar negosiasi perdamaian dengan Israel.

Palestina menganggap AS tak lagi menjadi perantara yang jujur dalam proses perdamaian Israel-Palestina setelah Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Pengakuan itu melanggar sejumlah resolusi PBB dan hukum internasional.

Tanpa ancaman Trump pun, UNRWA yang memberikan bantuan bagi pengungsi Palestina sejak 1949 telah kekurangan dana. Selama ini, Amerika Serikat menyumbang sekitar 30 persen dari anggaran UNRWA. Pada 2016, AS berkomitmen untuk memberi dana US$370 juta atau sekitar Rp5 triliun.

Ancaman Trump untuk menghentikan bantuan bagi Palestina bisa memperparah kondisi keuangan UNRWA. Selain AS, donatur UNRWA lainnya yang terbesar adalah Uni Eropa, Arab Saudi, Jerman, Inggris, Swedia, Jepang, Swiss, Norwegia dan Belanda.***

Sumber: CNNIndonesia


 
Berita Terbaru >>
Jokowi Tegaskan tak ada Tim Transisi untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran
Komisi II DPR: Pemerintah Segera Selesaikan Pembayaran Lahan Tol Pekanbaru-Padang
Alek Kurniawan Resmi Sandang Gelar Doktor Ilmu Pemerintahan IPDN
Pemerintah Segera Bentuk Satgas Pemberantasan Judi Online
Bandara SSK II Pekanbaru Catat Kenaikan Penumpang Signifikan Musim Lebaran 2024
Atasi Kenaikan Debit Air, PLTA Koto Panjang Buka Spillway Gate
Serapan Hanya 20 Persen, Pj Wako Minta OPD Tingkatkan Realisasi Anggaran
Kurir Sabu 23,8 Kg Ditangkap di Medan, Pernah Dipenjara 2 Kali
Diduga Korupsi Bansos Rp 1,7 Miliar Mantan Bupati Bone Bolango Ditahan
Bersinergi dengan Pemkab Pelalawan, Bupati Zukri Terima PJS Award 2024
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2022 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com