Kamis, 24 Mei 2018
Follow:
Home
Ciri Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi
Sabtu, 21/04/2018 - 15:30:02 WIB
 
 

JAKARTA- Pada sebagian besar kasus, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada bayi kerap terjadi tanpa sebab yang diketahui. Penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir ini diduga terjadi karena adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

Dari catatan data RS Harapan Kita, dari 1.000 kelahiran yang hidup, 9 bayi di Indonesia di antaranya diketahui mengidap penyakit jantung bawaan (PJB).

"Bisa bermacam-macam, tapi bisa juga kita tidak tahu," ucap dokter spesialis jantung Oktaviani Lilyasari dalam diskusi mengenai Penyakit Jantung Bawaan di Hotel Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (20/4).

Lebih jauh ia menambahkan, beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko PJB adalah infeksi rubella, genetik (keturunan), kelainan kromosom, hingga faktor lingkungan seperti radiasi dan polusi.

Menurut Oktaviani, satu dari tiga bayi dengan PJB memiliki jenis PJB yang kritis. Agar jiwa bayi yang memiliki PJB dapat tertolong, dibutuhkan penanganan secara tepat ketika gejala sudah nampak.

Warna biru di tubuh bayi

Gejala PJB yang paling nampak dan mudah dikenali adalah warna biru pada tubuh bayi, menurut Oktaviani. Warna biru ini biasanya nampak di selaput lendir.

"Biasanya di selaput lendir, di sekitar bibir atau lidah," kata Oktaviani.

Selain itu, warna kebiru-biruan juga dapat muncul di kuku, atau bahkan keseluruhan wajah bayi. Ketika sudah mendapat penanganan yang tepat, seperti operasi reparasi, biasanya warna kebiruan ini hilang secara dramatis.

Warna kebiru-biruan ini biasanya muncul pada individu yang memiliki PJB jenis sianotik. Pada PJB jenis ini, warna biru pada tubuh muncul karena kurangnya kadar oksigen di dalam darah.

Menurut Oktaviani, orangtua yang memiliki anak dengan PJB jenis sianotik ini juga kerap melaporkan bahwa anaknya sering mengalami kejang-kejang.

"Padahal itu bukan kejang, tapi spel. Aliran darahnya terhambat," kata Oktaviani.

Kesulitan makan

Walau begitu, gejala warna biru pada tubuh ini tidak akan muncul pada bayi memiliki PJB non-sianotik. Penderita PJB non-sianotik biasanya memiliki lubang di sekat jantung, kelainan pada salah satu katup jantung, atau penyempitan alur pembuluh darah, berbeda dengan penderita PJB sianotik.

Oleh karenanya, orangtua juga perlu mengenali gejala-gejala lain PJB, seperti berat badan yang sulit naik dan kesulitan makan (sering tersedak). Bayi yang memiliki PJB juga biasanya sering mengalami infeksi saluran napas bawah, yang dapat menyebabkan batuk panas.

Selain itu, napas bayi yang memiliki PJB juga cenderung lebih cepat, hidungnya kembang kempis. Menurut Oktaviani, hal ini dinamakan retraksi, dimana tulang hidung terlihat cekung ketika bayi bernapas.

Walau kebanyakan gejala PJB dapat dikenali sejak lahir, gejala ini kadang bersifat minimal atau tidak nampak sama sekali. Hal ini disebabkan ketika bayi baru lahir, sirkulasi darah dan sistem pernapasan bayi masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir.(cnn)

 
Berita Terbaru >>
Sekdako Pekanbaru Buka Pesantren Kilat BKMT
Antisipasi Terorisme, Pemkab Dandim dan Kapolres Bengkalis Keluarkan Maklumat
Piala Uber 2018, Indonesia Kalah dari China
Lima Perusahaan Tunda Melantai di Bursa Efek
Mahathir Akan Copot Menteri Berkinerja Buruk
Penyelesaian Dua Persil Lahan Subrantas, Dilanjutkan Usai Lebaran
Single Salary Berlaku, Tingkat Kehadiran PNS Pemko Naik
Najib Razak Tersenyum Santai Saat Diperiksa terkait Korupsi 1MDB
Terkait Sembako Maut, Kadis Pariwisata DKI Siap Diperiksa Polisi
Dukungan Makin Bulat di Seluruh Kabupaten, Firdaus-Rusli Optimis Menang
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com