Selasa, 23 Oktober 2018
Follow:
Home
Dolar AS Menguat Harga Harga Minyak Dunia Jatuh
Rabu, 02/05/2018 - 08:44:29 WIB
 
 

JAKARTA- Harga minyak dunia tergelincir lebih dari satu persen pada perdagangan Selasa (1/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar AS yang mengarah ke level tertingginya dalam empat bulan terakhir.

Kendati demikian, kekhawatiran terhadap peluang pengenaan sanksi AS kepada Iran menahan penurunan harga minyak lebih dalam.

Dilansir dari Reuters, Rabu (2/2), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merosot US$1,56 atau 2,1 persen menjadi US$73,13 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun US$1,32 atau hampir dua persen menjadi US$67,25 per barel.

Harga minyak mentah melanjutkan pelemahan pada perdagangan pasca penutupan (post-settlement) setelah Institute Perminyakan Amerika (American Petroleum Institute/API) merilis data persediaan minyak mentah pekan lalu yang menunjukkan peningkatan di luar perkiraan.

Kurs dolar AS melesat ke area positif pada tahun ini dan mematahkan beberapa level psikologis melawan beberapa mata uang utama dunia lainnya. Hal itu terjadi seiring melebarkan perbedaan proyeksi pertumbuhan dan tingkat bunga AS melawan negara lain yang membuat investor mendorong nilai kurs dolar lebih tinggi.

Sebagai catatan, semakin kuat kurs dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

"Kekuatan dari dolar AS merupakan sumber tekanan (terhadap harga minyak) berasal," ujar Vice President Tradition Energy Gene McGillian.

Selanjutnya, risiko AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran juga dipertimbangkan oleh pasar. Namun, hal ini memberikan dorongan kepada harga minyak. Pasalnya, keluarnya AS dari kesepakatan akan memberikan konsekuensi berupa sanksi terhadap Iran yang mempengaruhi ekspor minyak mentah Iran.

Harga minyak mentah menanjak pada awal pekan ini seiring keluarnya pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait bukti-bukti adanya program senjata nuklir rahasia Iran. Teheran telah membantah tudingan tersebut.

Analis Petromatrix Oliver Jakob menilai pernyataan tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru di mata pelaku pasar.

"Ini menunjukkan betapa pasar telah memasukkan faktor (price in) ekspektasi bahwa Trump tidak akan memperpanjang kesepakatan keringanan (sanksi nuklir Iran),' ujar Jakob.

Trump telah memberikan Inggris, Perancis, dan Jerman tenggat waktu hingga 12 Mei 2018 untuk memperbaiki kelemahan dari kesepatan yang dilakukan pada 2015 lalu itu. Jika tidak ada perbaikan, AS bakal kembali mengenakan sanksi terhadap Iran.

Kendati demikian, harga minyak dunia masih berada di jalur yang mengarah ke harga tertingginya dalam tiga tahun terakhir pada akhir April lalu. Beberapa analis menilai pasar sensitif terhadap perkembangan terkait sanksi Iran.

Lebih lanjut, pertumbuhan produksi minyak mentah AS dan persediaan telah membebani pasar. Sebelum dirilis data resmi, jajak pendapat Reuters meramal persediaan minyak mentah untuk pekan lalu bakal melonjak. Sementara, persediaan produk hasil kilang diperkirakan akan merosot. (cnn)

 
Berita Terbaru >>
Jenis Senyulong, Buaya yang Muncul di Sungai Siak Tidak Berbahaya
26 Ormas Melaporkan Aksi Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid di Garut
Tingkatkan PAD Online, KPK Kumpulkan Lima Kabapenda di Bank Riau Kepri
Gandeng IZI, Muslim PTPN V Sumbang Korban Bencana Lombok dan Sulteng
Masa Penahanan Ratna Sarumpaet Diperpanjang
Rampok Bersenpi Rampok Uang Ujang Rp500 di Kuansing
Berteriak, Gadis di Pelalawan Ini Selamat dari Percobaan Perkosaan
Cabuli Anak Tiri,‎ Seorang Petani di Desa Suka Maju Rohul Diltangkap Polisi
Cuek Pada Berita negatif, Cara David Beckham Jaga Pernikahannya
Hujan Meteor Bisa Disaksikan Dinihari Nanti di Langit Indonesia
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com