Rabu, 24 Oktober 2018
Follow:
Home
Kisah Suram Nadia Murad, dari Budak Seks ISIS ke Nobel Perdamaian
Kamis, 11/10/2018 - 16:19:31 WIB
 
 

NADIA Murad, perempuan berusia 25 tahun ini dulu tinggal di sebuah desa yang tenang di pegunungan Sinjar, di wilayah utara Irak, tak jauh dari perbatasan dengan Suriah.

Namun, ketenangan itu hancur ketika kelompok ekstremis bersenjata ISIS menyapu sebagian wilayah Irak dan Suriah pada 2014. Tak hanya itu, serbuan ISIS tersebut sekaligus menjadi mimpi buruk yang mengubah hidup Nadia selamanya. Nadia Murad baru berumur 19 tahun saat ISIS mendatangi desanya.

Setelah ditangkap dari desanya, Nadia dan para perempuan Yazidi lainnya menjalani penderitaan paling hebat sepanjang hidup mereka. Mereka dibawa ke Mosul, yang didaulat sebagai ibu kota kekalifahan yang diproklamasikan ISIS. Selama kurang lebih tiga bulan menjadi tawanan ISIS, Nadia berulang kali dipukuli, disiksa, dan diperkosa.

Murad dalam tulisan yang dimuat oleh The Guardian menjelaskan perempuan Yazidi kerap dijadikan budak seksual atau sabaya untuk insentif bagi jihadis ISIS.

Kepada BBC, Murad mengatakan bahwa ia pernah mencoba melarikan diri tapi gagal. Saat ditangkap kembali, Murad lantas dijebloskan ke sebuah sel dan diperkosa oleh semua milisi yang berjaga di bilik tersebut. Ia pun berpikiran untuk tak lagi berusaha meloloskan diri dari ISIS.

Namun, Murad melihat ada kesempatan untuk keluar dari sel ketika milisi terakhir yang menjaganya hidup sendiri. Saat jihadis itu lengah, Murad memberanikan diri pergi dan ia berhasil menuju ke perbatasan Irak berkat bantuan keluarga di Mosul yang memberikannya kartu identitas baru. Seperti yang dilaporkan oleh Channel Newsasia, Murad bergabung dengan ribuan warga Yazidi di kamp pengungsian setelah tiga bulan ditangkap oleh ISIS.

Selama di kamp pengungsian, Murad mulai berbagi kisahnya kepada wartawan tentang pengalaman yang ia alami selama menjadi tahanan kelompok militan ekstremis ISIS. Ia mengatakan bahwa dirinya kerap menangis. Mimpi tentang ia yang ditangkap ISIS dan berusaha melarikan diri pun terus-menerus muncul.

Murad lantas memutuskan untuk memanfaatkan tawaran lembaga bantuan untuk tinggal di negara lain sebagai pengungsi. Menurut  TIME, ia akhirnya menetap di Jerman setelah memperoleh izin lewat program yang diadakan oleh pemerintah negara bagian Baden-Württemberg.

Kampanye Kekerasan Seksual saat Perang

The Washington Post melaporkan bahwa sedikitnya 6.800 orang kelompok etnoreligius Yazidi ditangkap ISIS di distrik Sinjar, Irak. Sebanyak 3.000 di antaranya berhasil melarikan diri atau dibebaskan oleh kelompok militan ekstremis tersebut.Sementara itu, ribuan orang lainnya tidak diketahui keberadaannya, termasuk 1.300 perempuan dan anak-anak.

Meski selamat, Murad merasa ia mempunyai beban tanggung jawab untuk memastikan perempuan lain tak merasakan kejadian seperti yang dialaminya. Ia lantas giat  mengampanyekan soal perlu adanya langkah tegas agar tak ada lagi pihak yang menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang lewat kegiatan aktivisme. 

Murad dalam tulisan yang dimuat oleh The Guardian menjelaskan bahwa tindakan ISIS menyerang distrik Sinjar dan menangkap perempuan untuk dijadikan budak seks bukanlah keputusan spontan.

“ISIS merencanakan semuanya: bagaimana mereka datang ke rumah kami, apa yang membuat wanita bernilai atau tidak, dan milisi mana yang berhak atas sabayasebagai insentif atau yang harus membayar. Mereka bahkan mendiskusikan sabaya di majalah propaganda berjudul Dabiq dalam rangka mendapatkan orang baru,” katanya.

Aktivisme Murad dimulai tahun 2015 saat ia pertama kali  memberikan testimoni di hadapan Dewan Keamanan PBB. Sejak itu, ia sering melakukan lobi di tiap acara yang dapat ia kunjungi dan bertemu dengan banyak pemimpin negara untuk meningkatkan  kesadaran tentang keadaan orang Yazidi juga semua perempuan yang menjadi korban saat perang.

Bersama pengacara Amal Clooney, Murad juga berusaha untuk mencari keadilan dengan membawa persoalan kejahatan ISIS terhadap warga Yazidi ke meja pengadilan internasional.

Murad lantas membentuk Nadia Initiative, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengadvokasi perempuan dan kelompok minoritas serta mendampingi pengembangan komunitas saat krisis. Lewat Nadia Initiative pula, Murad dan tim membuat program berkelanjutan di daerah Sinjar lewat Sinjar Action Fund (SAF). Minimnya kemauan pemimpin negara untuk membantu masyarakat Yazidi yang berakibat pada kurangnya pemberian bantuan mendorong Murad membentuk SAF.

Pada 2018, SAF menerbitkan laporan berjudul “In The Aftermath of Genocide” (PDF) yang berisi analisis data lapangan soal keadaan Sijar pasca-serangan ISIS pada 2014. SAF mengatakan bahwa dari enam sektor yang menuntut perbaikan segera, pendidikan dan tempat bernaung menjadi masalah kritis yang perlu diperhatikan agar pengungsi Yazidi dapat kembali ke daerah asalnya.  

Karena kegigihannya tersebut, usaha Nadia diganjar penghargaan Vaclav Havel dan Sakrarov tahun 2016. Selain itu, ia juga mendapatkan Clinton Global Citizen Award dan Peace Prize dari United Nations Association of Spain. PBB kemudian menunjuk Murad sebagai Duta Persahabatan untuk Martabat Para Penyintas Perdagangan.

Pada 2018, Murad meraih penghargaan Nobel Perdamaian berkat usahanya untuk menghentikan kekerasan seksual sebagai senjata perang atau konflik bersenjata.****/internet/tirto.id





 
Berita Terbaru >>
Jenis Senyulong, Buaya yang Muncul di Sungai Siak Tidak Berbahaya
26 Ormas Melaporkan Aksi Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid di Garut
Tingkatkan PAD Online, KPK Kumpulkan Lima Kabapenda di Bank Riau Kepri
Gandeng IZI, Muslim PTPN V Sumbang Korban Bencana Lombok dan Sulteng
Masa Penahanan Ratna Sarumpaet Diperpanjang
Rampok Bersenpi Rampok Uang Ujang Rp500 di Kuansing
Berteriak, Gadis di Pelalawan Ini Selamat dari Percobaan Perkosaan
Cabuli Anak Tiri,‎ Seorang Petani di Desa Suka Maju Rohul Diltangkap Polisi
Cuek Pada Berita negatif, Cara David Beckham Jaga Pernikahannya
Hujan Meteor Bisa Disaksikan Dinihari Nanti di Langit Indonesia
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com