Kamis, 27 Juni 2019
Follow:
Home
Zulmizan: Jangan Sembarang Pakai Baju Adat Melayu, Nanti Semua Kena Tulah
Senin, 17/12/2018 - 16:42:00 WIB
 
 

PEKANBARU - Ketua Umum DPH LAMR Kabupaten Pelalawan, Datuk Seri Tengku Zulmizan Farinja Assagaff menyatakan, ada yang janggal saat Presiden Jokowi memakai baju adat Melayu, dalam penabalannya sebagai Datuk Seri Setia Amanah Negara oleh  Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Sabtu (15/12/2018) di Balai Lembaga Adat Melayu Riau, Pekanbaru.

"Pakaian Pak Jokowi begitu berantakan. Kata orang Melayu: "tak semenggah" sehingga tak nampak takah dan aura yang mengenakannya," kata Zulmizan, Senin (17/12/2018).

Menurut Zulmizan, kejanggalan terlihat sangat jelas dalam pemakaian kain sampin atau kain samping Jokowi, karena  letak kepala kain di sebelah depan. Seharusnya sebagai laki-laki letak kepala kain itu dibagian belakang dan dipakaikan simetris jarak kiri kanannya.

"Kain sampin itu ada tata kramanya, ada filosofi didalamnya ada makna dan ada pesannya, tidak bisa sembarangan," ujar Zulmizan.

Dalam adat Melayu, kata Zulmizan, pemakaian busana itu berbeda, memperlihatkan siapa pemakainya. Pakaian untuk laki-laki berbeda dengan untuk perempuan. Pakaian janda berbeda dengan yang berstatus istri. Untuk Dara dan Jejaka juga berbeda.

"Yang dipakaikan kepada Pak Jokowi itu adalah busana untuk perempuan. Saya heran, siapa yang memakaikannya kepada beliau," ujar Zulmizan.

Selain busana adat yang dipakai Jokowi, Zulmizan juga menyatakan jika baju adat yang dipakai Kapitra Ampera dan Rusli Ahmad saat mendampingi Jokowi di LAM Riau juga tidak tepat menurut adat dan budaya Melayu.

Menurut Zulmizan, Kapitra tidak pas memakai pakaian Adat Melayu tenun seperti yang dipakai tersebut, karena sudah menjadi semacam konsensus di lingkungan LAMR bahwa busana tersebut adalah pakaian untuk sekelas Datuk Seri, yang pengesahannya dilakukan dengan cara ditabalkan melalui Upacara Adat.

"Saat penabalan Pak Jokowi terlihat jenis pakaian Pak Kapitra dan pak Rusli Ahmad sama dengan yang dipakai Pak Jokowi. Padahal yang ditabalkan sebagai Datuk Seri adalah pak Jokowi. Begitu pula jenis tanjak yang dipakai. Perbedaannya hanyalah tidak ada selempang dan keris. Bahkan Rusli Ahmad memakai "bengkong" atau sabuk berwarna kuning" yang lumrahnya dipakai oleh Para Raja/ Kerabat Kerajaan atau sekelas Datuk Seri," kata Zulmizan.

Menurut Zulmizan, sebagai 'Orang Adat' pihaknya menyayangkan busana yang dipakai pihak-pihak terkait dalam penabalan gelar Jokowi, karena hal ini sangat penting dan prinsip, menyangkut alur dan patut.

"Janganlah main-main dalam urusan adat, karena di dalamnya otomatis juga terkandung urusan Tuah, Takah dan Marwah. Jika menyalah bisa timbul tulah," ujar Zulmizan.***/zie



 
Berita Terbaru >>
Ragam Kegiatan Warnai Sempena Hari Jadi Kota Pekanbaru Ke- 235
Seorang Kakek di Kuansing Nyaris Tewas Diterkaman Buaya
Satgas Karhutla Mulai Antisipasi Kemunculan Hotspot di Riau
Putusan Sengketa Perselisihan Hasil Pemilu Pilpres akan Dibacakan 27 Juni
Aturan Penetapan Jalur Zonasi PPDB 2019 Direvisi Menteri Pendidikan
Ternyata Rokok Elektrik Bisa Rusak Sel Pelapis Pembuluh Darah
Indonesia Ikut Suarakan Penanggulangan Sampah Plastik
Jengkol Paling Enak Ada di Sumatera Barat
PPDB SMA Sederajat di Riau akan Dimulai Awal Bulan Juli
Pemerintah Putuskan Harga Tiket Pesawat Rute Domestik Turun
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com