Senin, 27 Januari 2020
Follow:
Home
Melihat Budaya Minum Teh di Berbagai Negara di Dunia
Minggu, 15/12/2019 - 13:52:10 WIB
 
 

PEKANBARU - Setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Teh Internasional. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia tentang industri teh lengkap dengan para pekerja dan petani yang ada di belakangnya.

Bagi masyarakat Indonesia, teh hampir selalu menemani setiap waktu, baik saat bersantap atau bersantai menikmati waktu luang. Tetapi tentu saja beda negara, beda pula tradisi minum teh yang berkembang.

Di Inggris, misalnya, teh biasa dinikmati saat senja atau sore hari. Tradisi ini dikenal dengan istilah 'afternoon tea'. Atau, Jepang yang memiliki tata cara minum teh yang disebut 'chanoyu'. Berikut tata cara minum teh di berbagai negara, dikutip dari berbagai sumber.

1. Tibet

Tibet punya cara unik dalam menikmati teh. Orang Tibet menyebutnya dengan 'po cha'.
Teh bukan lagi diseduh, melainkan direbus selama beberapa jam layaknya masakan. Teh hitam Pemagul direbus kemudian ditambahkan susu, garam, dan butter yak. Hasilnya, po cha lebih tampak seperti kuah sup yang kental. Sajian ini sangat pas untuk dicecap di tengah udara dingin Tibet.

2. Iran
Di Iran, teh hadir dalam berbagai kesempatan, mulai dari obrolan santai hingga pertemuan serius kalangan politisi. Sajian teh umumnya berwarna merah kecokelatan dengan rasa kuat.

Masyarakat Iran terbiasa tidak meminum teh murni. Pasalnya, teh hanya dituang hingga sepertiga gelas, untuk kemudian dicampur dengan air panas dan pemanis sesuai selera.

3. Maroko
Tradisi minum teh begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Maroko. Mereka biasanya menikmati teh Touareg yang terdiri dari racikan daun mint dan teh hijau dilengkapi dengan gula sebagai pemberi rasa manis.

Saat ada tamu berkunjung, minum teh ibarat menonton atraksi. Tuan rumah atau umumnya kepala rumah tangga dengan terampil akan menuang teh dari teko bermoncong panjang ke gelas-gelas kecil di meja. Di Maroko, 'haram' sifatnya menolak sajian teh saat bertamu.

4. Selandia Baru
Perkenalan orang Selandia Baru pada teh berawal dari kedatangan misionaris Inggris. Tak ayal, teh pun kian menjamur. Keberadaannya bahkan menggeser jenis minuman lain di sana. Sejak abad ke-19, tren garden tea pun populer sebagai sarana berkumpul kaum sosialita.

Selandia Baru mengadopsi tradisi afternoon tea ala Inggris dengan sedikit perubahan. High tea ceremony adalah namanya. Sesuai namanya, acara minum teh pun dibalut dekorasi elegan serta kudapan menggoda selera.

5. Pakistan
Pakistan mengenal minuman noon chai, yang selalu jadi jamuan untuk tamu yang berkunjung. Minuman teh berwarna merah muda cantik ini terbuat dari campuran kacang pistachio, almond, garam, susu, dan rempah seperti kembang lawang, kayu manis, dan cardamon. Sedikit campuran baking soda membuat minuman berwarna merah muda.

Noon chai umumnya disajikan bersama kudapan khas Pakistan seperti kandir tchot, bakarkhani, dan kulcha.

6. Rusia

Pada masa sulit, tradisi menyeduh teh berkembang di Rusia. Adalah zakarva, kebiasaan orang Rusia menyeduh teh pada wadah berbahan metal yang disebut samovar. Masyarakat Rusia umumnya hanya menuang teh hingga seruas jari untuk kemudian ditambah air panas. Hal itu dilakukan untuk menjinakkan rasa pahit dan pekat dari teh.

7. Thailand

Teh di Thailand biasa disajikan dingin. Es teh ala Thailand bahkan kesohor hingga Indonesia dengan sebutan Thai Tea. Teh diseduh dan disaring dengan sejenis kain. Campurannya terbilang unik dengan memadukan air jeruk, licorice, biji asam, bunga lawang, serta bahan-bahan lain sehingga menghasilkan rasa yang khas. Terakhir, es teh dibubuhi susu kental manis.

Es teh pun disajikan dengan gelas tinggi. Terkadang, bartender mengocok campuran teh hingga menciptakan buah pada permukaan minuman.

8. Argentina

Di Argentina dan sekitar Amerika Latin, orang mengenal 'yerba mate' atau teh herbal. Minuman ini disebut sebagai 'minuman para dewa'. Teh disiapkan dalam wadah mirip vas dan diminum dengan sedotan khusus bernama bombilla. Wadah semacam ini bisa membuat teh tetap hangat dalam waktu lama.

9. Hongkong

Hongkong mengenal istilah 'pantyhouse tea'. Istilah ini agak mirip dengan pembuatan kopi ala Aceh. Si peracik biasanya akan menggunakan semacam sarung berukuran kecil untuk menuang teh dan susu. Gerakan menuang dilakukan berkali-kali hingga memakan waktu sekitar 10-20 menit.

10.Jepang

Salah satu tradisi budaya Jepang yang cukup populer adalah upacara minum teh. Upacara minum teh merupakan ritual tradisional Jepang dalam menyiapkan dan menyajikan teh untuk tamu dengan tata cara tertentu. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama Chado atau Chanoyu, tetapi jika dilakukan di luar ruangan disebut Nodate.

Teh tersebut bukan sekedar teh yang dituangi air panas, disajikan, lalu diminum. Upacara minum teh ini mengandung unsur seni hidup yang luas dan sarat makna. Teishu (tuan rumah) akan mencoba membawa kualitas ruang teh dengan taman di sekitar rumah teh.

Peralatan minum teh yang digunakan selaras satu sama lain sehingga tema dan warnanya sama. Seperti dalam kehidupan, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan menyelaraskannya adalah seni bertahan hidup.

Para tamu yang diundang merangkak melalui pintu masuk kecil yang disebut Nijiriguchi untuk memasuki ruangan minum teh. Di dalam ruangan, mereka berlutut dan dan membungkuk pada gulungan yang menggantung, dan mereka akan duduk bersebelahan dalam posisi seiza.****

 
Berita Terbaru >>
Tim Pemenangan HT Mantap Serahkan Bantuan Pada Perguruan Kera Sakti
IKLA Pelalawan Dukung HT Jadi Bupati
Marga Saragih Garingging Dukung HT Jadi Bupati Pelalawan
Husni : Ibarat Membangkit Batang Terendam
Husni Thamrin: Tak Ada yang Mesti Ditakuti dan Menakuti Kami
DPRD Pekanbaru Sesalkan Anggaran Pemeliharaan Jalan Dipangkas
Melawan Saat Ditangkap, Komandan KKB Papua Ditembak Mati
Di Simpang Lobuh, Husni Janji Lakukan Pemerataan Pembangunan
Ikut Jokowi ke Labuan Bajo, Kapal Rombongan Wartawan Terbalik
Syamsir Bakar Semangat Pendukung Lewat Pantun
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com