Selasa, 26 Mei 2020
Follow:
Home
Catatan Politik Yanto Budiman
Musda Golkar, Ibarat 'Kue Bolu' yang Bantat
Senin, 02/03/2020 - 06:41:00 WIB
  Yanto Budiman S  
TERKAIT:
 
 

KITA semua pasti pernah memakan kue bolu. Rasanya enak sekali. Tapi bilamana kue ini bantat, tentu bikin kesal ketika kita memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya. Kalimat yang keluar pasti seperti ini: 'Ah, kue nya  gak masak' sembari memuntahkannya. 

Musda Golkar adalah contoh dari gambaran ilustrasi diatas. Dibawah tak masak, ditengah juga, diatas apalagi. Dalam KKBI, Bantat artinya belum masak benar dan keras. 

Sebagaimana kita saksikan, saat ini dua kandidat ketua DPD Golkar Riau tengah bersaing: Syamsuar vs Andi Rahman. 

Andi Rahman bahkan sudah sesumbar dengan mengklaim dapat dukungan 8 DPD II Golkar di kabupaten/kota di Riau.  Andai kata, klaim ini benar, dipastikain kursi Ketua Partai Beringin Riau akan kembali diduduki mantan Gubri yang kini berkiprah kembali di Senayan. 

Sementara, Syamsuar yang digadang gadang calon kuat dan bakal mampu menundukkan rivalnya AR, pencalonannya terganjal. Oleh sebagian besar kader Golkar memanfaatkan celah Syamsuar telah memiliki kartu anggota (KTA) PAN. Ini dijadikan senjata untuk menjegal mantan bupati Siak yang juga bekas Ketua DPD Golkar Siak itu. 

Terdepaknya Syamsuar dari Golkar tidak terlepas dari dinamika politik Pilgubri 2019 lalu, dimana ketika itu DPP memutuskan AR sebagai cabugri berpasangan dengan Suyatno yang diback up PDIP. 

Situasi ini kemudian 'dimanfaatkan' PAN bersama PKS dan Nasdem dengan membangun koalisi mengusung Syamsuar dengan tandemnya Edy Natar Nasution yang kemudian mengantarkan mereka menjadi pemenang. 

Satu tahun, setelah dilantik, PAN sebagai partai yang berjasa menagih janji Syamsuar yang sebelumnya bersedia menakhodai DPD PAN menggantikan Irwan Nasir. Namun, hingga pelaksanaan musda Golkar janji itu tidak terealisasi. Sampai sampai PAN akhirnya mengalah dan tidak mempersoalkan, ini dipertegas dalam pernyataan Irwan Nasir di media,  "PAN rela dengan mewakafkan Syamsuar ke Partai Golkar. 

Narasi "mewakafkan" ini kemudian memunculkan ragam persepsi di ranah publik. Ada yang menafsirkan Syamsuar tidak dianggap sebagai kekuatan yang siknifikan bagi PAN sehingga tidak menjadi masalah jika diwakafkan untuk Golkar. Di sisi lain, Syamsuar adalah kader Golkar yang punya andil dalam membesarkan Golkar di Siak. 

Lain dari itu, tak sedikit pula pihak yang menilai Syamsuar gamang dalam bermain politik. Mestinya kalau sudah mengantongi KTA, Syamsuar jangan lagi berpaling muka ke Golkar, kenapa tidak langsung eksekusi menjadi Ketua DPW PAN Riau yang secara politis dapat menjadi pijakan dia menghadapi tahun politik 2024.

Toh, dengan upayanya merebut kursi Ketua Golkar Riau orang sudah gamblang menebak bahwa Syamsuar masih punya keinginan kuat menjadi Gubernur dua periode, meskipun di kalangan media beredar selentingan ada kesepakatan dia dengan Edy Natar satu periode. 

Namun, seperti kata pepatah politik 'tak ada kawan abadi yang ada kepentingan',  kesepakatan itu buyar dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu. 

Melihat situasi musda yang mulai memanas DPP mengambil sikap. 
Pelaksanaan musyawarah daerah (Musda) DPD Golkar Riau yang semestinya dijadwalkan akan digelar Ahad (1/32020) oleh DPP Golkar akhirnya batal dilaksanakan karena adanya permasalahan yang belum tuntas pada tiga DPD di Riau yakni Siak, Dumai dan Rohil.

Ketiga peserta tersebut masih belum mendapatkan titik temu terkait pelaksanaan musda DPD Golkar Riau. Hal itu diungkapkan oleh Ketua PP Sumatra 1-DPP Partai Golkar Idris Laena di Jakarta, Ahad (1/3/2020).

Hal tersebut merujuk pada perintah dari Mahkamah Partai Golkar berdasarkan Surat Nomor B 01/MP-GOLKAR/II/2020 tertanggal 28 Februari 2020, tentang salinan penetapan Mahkamah Partai dan penundaan Musda DPD partai Golkar Provinsi Riau. 

"Atas dasar itu, DPP Partai Golkar meminta Pelaksanaan Musda Golkar Riau ditunda sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian," kata anggota DPR RI dari Riau itu.

Idris menuturkan, pada hakekatnya Musda adalah forum untuk bermusyawarah, di mana buah dari bermusyawarah dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang terbaik untuk partai dan kebijakan-kebijakan kedepannya. 

"Namun jika soal peserta saja masih bermasalah, maka Musda tentu belum dapat dilaksanakan," tandasnya. 

Menyikapi penundaan ini, Ketua Steering Committe (SC) Musda GolkarRiau Masnur mengaku prihatin. Padahal, pihaknya telah memastikan kesiapan pelaksanaan musda yang direncanakan berlangsung di Hotel Labersa, Ahad (1/3/2020).

“Kami kaget dan sangat prihatin. Penundaannya hanya datang dengan pesan Whatsapp dari Sekjen kepada ketua kita, Andi Rachman (Arsyadjuliandi Rachman, red),” sebut Masnur seperti dilansir dari  Riaupos.co. 

Ia menceritakan, penundaan tersebut awalnya diberitahu oleh Sekjen DPP Golkar Lodewijk F Paulus, Sabtu (29/2/2020) malam sekitar pukul 20.00 WIB. Lodewijk, diceritakan dia, menghubungi Andi Rachman melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp. Andi yang masih menjabat Ketua DPD I Golkar Riau kemudian memberitahu dirinya.

“Ketua beritahu saya sekitar pukul 21.30 WIB. Habis itu saya datang ke rumah, saya bertanya. Ini ada apa gerangan,” ucap Masnur bercerita.

Padahal menurut dia, seluruh persiapan musda telah matang. Bahkan seluruh tamu undangan, termasuk DPD II yang memiliki hak suara sudah berada di Pekanbaru pagi tadi. Sehingga pihaknya harus mengklarifikasi kembali musabab penundaan langsung ke DPP Golkar.

“Ini kami berangkat ke Jakarta untuk mencari tahu langsung ke DPP Golkar,” tutupnya.

Kini, nasib Syamsuar ada dan hanya tergantung di tangan Ketum DPP Golkar Airlangga Hartarto lewat hak diskresi untuk menguatkan dan mensahkan pencalonannya.  Case politik ini sudah pernah terjadi di DPD Golkar Sumatera Utara. Bedanya kader disana tidak pernah 'lompat pagar' ke Partai lain sehingga tidak begitu sulit mendapat diskresi. 

Andai kata DPP masih menganggap Syamsuar sebagai kader dan dinilai punya siknifikansi yang kuat untuk kepentingan Golkar di Pilkada serentak dan Pileg-Pilpres 2024,  maka diskresi itu bisa dipastikan keluar. Dan jika ini terjadi, ada dua kemungkinan:

Pertama, AR mundur dari pencalonan dan atau tetap bersikukuh maju.

Jika skenario pertama yang terjadi tentu sangat menguntungkan bagi Syamsuar, karena bisa dipastikan terpilih aklamasi sebagai ketua DPD GOLKAR Riau. 

Namun jika skenario kedua yang muncul, maka pemilihan tak bisa terelakkan. Syamsuar dan AR terpaksa "adu gerobak".Siapa yang kuat dan mampu menggarap pemilik suara maka dialah pemenang. 

Kalau ini yang terjadi, maka musda yang tadinya diibaratkan seperti 'kue bolu yang bantat' akan masak dengan sendirinya dan enak dimakan. Pertarungan yang enak dan seru ditonton. 

Paling tidak, Partai golkar sebagai partai yang matang dan diposisikan sebagai partai yang turut mempengaruhi bulat lonjongnya politik Nasional, telah menyuguhkan political game yang sehat dan indah serta tidak menyajikan Musda 'kue bolu' Yang bantat. (*)

Selamat Bermusda!

 
Berita Terbaru >>
Maiyuni: Kecil Tapak Tangan, Nyiru Kami Tadahkan
Kuasa Hukum Harap Hakim Tidak Membatasi Jumlah Saksi
Zufra: Lengkapi Dokumen, Lapor ke Mendagri
Bappeda Riau Sebut Akan Mengkaji Ulang
Gubri: Hindari Terpapar Covid-19 Masyarakat Sebaiknya Salat Idul Fitri di Rumah
Surat Perjalanan Khusus Warga Masuk Riau akan Diverifikasi Ulang
Harimau Sumatera Mati di Lahan Konsesi Arara Abadi dengan Kaki Terjerat
5 Fraksi Minta PKS Ganti Hamdani Jadi Ketua DPRD Pekanbaru
Antar 150 Paket Tajil dan Buka Puasa untuk Anak
Hendry: Hakim Langgar Kode Etik dan Tertib Hukum Acara Perdata
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com