BEM UNM Bantah Ikut Deklarasi Tolak Reformasi Jilid II
Kamis, 18 Juni 2026 - 16:15:45 WIB
 |
| |
BEM UNM membantah terlibat dalam deklarasi penolakan reformasi jilid II. (CNN Indonesia) |
|
KLIKINDONESIA.CO, MAKASSAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) membantah ikut deklarasi penolakan reformasi jilid II. Deklarasi itu sebelumnya berlangsung di salah satu kafe di Makassar, Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, BEM UNM tolak reformasi jilid II menjadi narasi yang dibantah keras pihak kampus.
Plt Presiden BEM UNM Nur Intan Maharani Ilyas menegaskan sikap resmi lembaganya. Menurutnya, BEM UNM masih konsisten berada di garis perjuangan mahasiswa.
"Kami menegaskan bahwa hari ini BEM UNM masih konsisten berdiri di garis perjuangan. Tiba-tiba nama kami dicantumkan pada pernyataan yang tidak pernah kami sampaikan," kata Intan, Kamis (18/6).
Hadiri Diskusi, Bukan DeklarasiSelanjutnya, Intan menerangkan dirinya bersama sejumlah pengurus memang sempat menghadiri acara tersebut. Namun, kehadiran itu hanya untuk diskusi terkait isu-isu kebangsaan. Selain itu, dalam forum tersebut tidak ada pernyataan resmi BEM UNM menolak reformasi jilid II.
"Sama sekali tidak ada sampai ke sana. Kami di BEM lintas kampus Makassar menghadiri undangan kawan-kawan dari BEM Unismuh. Acara itu menjadi momen mendiskusikan isu-isu bangsa hari ini, sekaligus mengeratkan simpul antar kampus agar gerakan ke depan lebih masif," ungkapnya.
Tetap Konsisten Kawal Isu BangsaSampai saat ini, BEM UNM tetap konsisten mengawal berbagai isu kritis bangsa. Beberapa di antaranya yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan UU Polri. Dengan demikian, narasi penolakan reformasi jilid II tidak mewakili sikap lembaga.
"Kami akan terus berupaya membuka ruang partisipasi kolektif yang lebih luas untuk kebutuhan gerakan jangka panjang, termasuk untuk reformasi jilid II," jelasnya.
Lebih lanjut, Intan menerangkan BEM UNM sebenarnya sudah menggelar aksi unjuk rasa sehari sebelumnya. Aksi tersebut berlangsung di depan Kampus UNM Jalan AP Pettarani. Selain itu, aksi itu menyoroti kondisi bangsa yang dinilai kritis.
"Aksi kemarin sebagai bentuk kampanye kepada masyarakat bahwa negara hari ini dihadapkan pada kondisi kritis nasional. Aksi itu juga menjadi pra-kondisi untuk gerakan berikutnya. Oleh karena itu, kami akan kembali menggelar aksi serupa dengan mengerahkan massa yang lebih banyak," tegasnya. (*)
Sumber : CNN Indonesia